NO.
1 Uraian
I.
Data Buku
a. Judul
buku : Manajemen
b. Pengarang : Richard
L. Daft
c. Penerbit : Erlangga
d. Edisi
: Ke-5
e. Tahun
terbit : 2001
/ 360 halaman
f. Tujuan : Edisi
ke lima manajemen terutama di fokuskan pada pendidikan
manajemen masa depan, dengan mengidentifikasikan dan
menggambarkan elemen dan contoh yang muncul dari paradigma
baru manajemen.
II. Pokok
Bahasan :
Buku
ini terbagi ke dalam 22 bab, yang di mulai dari bab 15, yang membahas dari apa,
mengapa, dan bagaimana membentuk suatu organisasi.
Bab 15 membahas tentang dasar-dasar
perilaku dalam organisasi.
Perilaku
organisasi, umumnya dikenal sebagai OB (organizing
behavior), adalah bidang interdisipliner yang ditujukan untuk mempelajari
sikap, perilaku, dan kinerja manusia dalam sebuah organisasi. OB mengacu pada
konsep dari banyak disiplin, termasuk psikologi, sosiologi, antropologi
kebudayaan, teknik industry, ekonomi, etika, konseling kejuruan, demikian pula
disiplin manajemen. Konsep dan dasar dari perilaku organisasi penting bagi
seorang manajer karena dalam setiap organisasi, manusia mutlak membuat
keputusan yang mengatur bagaimana organisasi mendapatkan dan mengelolah sumber
daya.
Bab
16 membahas tentang kepemimpinan dalam organisasi.
Kepemimpinan
(leadership) adalah kemampuan
mempengaruhi orang yang mengarah kepada pencapaian tujuan. Definisi ini
menggambarkan ide bahwa pemimpin adalah orang lain dalam pencapaian tujuan.
Kepemimpinan adalah resiprokal (saling timbal-balik), terjadi di antara
orang-orang. Pada bab ini, membahas satu dari topic manajemen yang paling
banyak diskusikan dan diteleti-kepemimpinan. Di sini juga akan didefinisikan
kepemimpinan, membahas perbedaan antara pemimpin dengan manajer, dan
mendiskusikan sumber kekuatan pemimpin. Di bab ini juga akan diberikan
ciri-ciri, perilaku, dan teori kontinjensi dari efektivitas kepemimpinan. Bab
ini juga akan banyak mendiskusikan gaya kepemimpinan baru seperti pendekatan
transformasional dan karismatik. Bab ini ditutup dengan diskusi kepemimpinan
bagi organisasi pembelajaran. Bab 17 hingga 19 mencakup banyak fungsi
kepemimpinan, termasuk motivasi karyawan, komunikasi, dan memimpin kelompok.
Bab 17 membahas tentang motivasi dalam
berorganisasi.
Motivasi
(motivation) mengacu pada dorongan,
baik dari dalam atau dari luar diri seseorang yang memunculkan antusiasme dan
kegigihan untuk melakukan tindakan tertentu.motivasi karyawan mempengaruhi
produktivitas kerja, dan sebagian pekerjaan menejer adalah untuk menyalurkan
motivasi ke arah pemenuhan tujuan organisasi. Pada bab ini juga akan dibahas
teori dan model motivasi karyawan. Pertama kita akan mengkaji beberapa
perspektif motivasi dan cakupan model yang menerangkan kebutuhan karyawan, dan
proses yang dikaitkan dengan motivasi. Kemudian kita akan mendiskusikan
bagaimana desain pekerjaan (job design)
– mengubah struktur kerja itu sendiri – dapat mempengaruhi kepuasan dan
produktivitas karyawan. Akhirnya, kita akan mempelajari tren pemberdayaan (empowerment), dimana otoritas dan
pembuatan keputusan didelegasikan pada bawahan untuk meningkatkan motivasi
karyawan.
Bab 18 membahas tentang komunikasi dalam
organisasi.
Komunikasi
(communication) dapat didefinisikan
sebagai proses di mana informasi dipertukarkan dan dimengerti oleh dua orang
atau lebih, biasanya dengan maksud untuk memotivasi atau mempengaruhi perilaku.
Komunikasi tidak hanya mengirimkan informasi. Pada bab ini dijelaskan mengapa eksekutif
seperti Robert Strauss, Jim Chesterton, dan Jhon Chambers merupakan komunikator
yang efektif. Pertama, kita akan melihat mengapa pekerjaan manajer membutuhkan
komunikasi. Lalu, kita akan mendefinisikan komunikasi dan menerangkan sebuah
model proses komunikasi. Kemudian kita akan membahas aspek interpersonal dari
komunikasi, termasuk saluran komunikasi, persuasi, dan keterampilan
mendengarkan, yang mempengaruhi kemampuan manajer untuk berkomunikasi. Setelah
itu, kita akan mencermati organisasi secara keseluruhan dan membahas komunikasi
formal ke atas dan ke bawah, dengan demikian pula komunikasi informal.
Akhirnya, kita akan mempelajari dan mengetahui hambatan komunikasi dan cara
mengatasinya.
Bab 19 membahas tentang kerja tim dalam
organisasi.
Sebuah
tim (team) adalah sebuah unit yang
terdiri dari 2 orang atau lebih yang berinteraksi dan mengkoordinasikan
pekerjaan mereka untuk menyelesaikan sebuah tugas yang spesifik. Definisi ini
mempunyai 3 komponen. Pertama, diperlukan 2 orang atau lebih. Tim dapat cukup
besar, walaupun kebanyakan kurang dari 15 orang. Kedua, orang dalam sebuah tim
melakukan interaksi secara teratur. Orang yang tidak berinteraksi, seperti
orang yang berdiri dalam antrian di tempat makan siang atau orang yang ada di
tengah jalan, tidak membentuk tim. Dan ketiga, orang dalam sebuah tim berbagi
sebuah tujuan berkinerja, apakah merancang computer genggam yang baru,
membangun mobil, atau menulis buku teks. Pada bab ini berfokus pada tim dan
aplikasi barunya dalam organisasi. Kita akan mendefinisikan beberapa jenis tim,
menggali tahab perkembangannya, dan mempelajari beberapa karakteristik seperti
ukuran, keeratan, dan norma. Kita akan mendiskusikan bagaimana individu dapat
berkontribusi pada tim, dan mengkaji keuntungandan kerugian yang dihubungkan
dengan kerja tim. Tim merupakan aspek penting bagi kehidupan organisasi dan
kemampuan mengaturnya merupakan komponen penting bagi kesuksesan manajer dan
organisasi.
Bab 20 membahas tentang dasar-dasar
pengendalian mutu.
Pengendalian adalah isu yang
dihadapi semua manajer di setiap organnisasi dewasa ini. Pada bagian bab ini
akan diperkenalkan mekanisme pasar dalam pengendalian organisasi. Bab ini akan
dimulai dengan mengikhtisarkan struktur dasar dan tujuan dari proses
pengendalian.. kemudian akan dilanjutkan dengan membahas topic pengendalian
kinerja keuangan, termaksuk penggunaan anggaran. Seksi-seksi berikutnya akan
mengkaji prespektif pengendalian yang relative baru, yaitu perubahan filosofi
pengendalian, pemamfaatan manajemen mutu total, dan tren terbaru seperti open-book management dan standar pengendalian mutu internasional. Bab ini
akan diakhiri dengan merangkum karakteristik-karakteristik dari sistem
pengendalian yang efektif.
Bab 21 membahas tentang sistem informasi
dan teknologi informasi.
Teknologi informasi (information technology) sebuah
organisasi terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, perangkat
telekomunikasi, manajemen basis data, dan teknologi lain yang digunakan untuk
menyimpan data dan membuat data tersedia dalam bentuk informasi kepada pembuat
keputusan organisasi.teknologi ini, menyediakan akses bagi para manajer dan
karyawan organisasi ke dalam basis data pelanggan dan informasi organisasi yang
kompleks. Semakin tersedia dan murahnya teknologi informasi menghadirkan
tekanan bagi organisasi untuk berinvestasi dalam perangkat keras, perangkat
lunak, teknologi pemerosesan informasi lainnya agar tidak kehilangan posisi
pasar.
Bab 22 membahas tentang manajemen operasi
dan manajemen pelayanan.
Manajemen operasi (operations management) secara formal
didefinisikan sebagai bidang manajemen yang berspesialisasi dalam produksi
barang dan jasa, dan menggunakan perangkat dan teknik khusus untuk memecahkan
masalah manufaktur. Pada dasarnya, manajer operasi mengurusi aktivitas produksi
di dalam organisasi. Hal ini meliputi keputusan tentang dimana fasilitas
seharusnya berlokasi dan peralatan apa yang harus ada di dalamnya. Namun, sama
seperti semua area manajemen yang lain, manajemen operasi juga memerlukan kemampuan
untuk memimpin orang. Selanjutnya manajemen pelayanan disini, terbagi menjadi 2
yaitu pelayanan yang bergerak di organisasi manufaktur dan jasa. Organisasi
manufaktur adalah organisasi yang menghasilkan barang fisik. Sedangkan
organisasi jasa adalah organisasi yang menghasilkan output nonfisik yang
memerlukan keterlibatan konsumen dan tidak bisa disimpan dalam persediaan. Pada
Bab ini akan banyak membahas teknik perencanaan dan pengendalian operasi
manufaktur dan jasa. Sementara dua bab sebelumnya membahas konsep pengendalian
secara menyeluruh, termaksud sistem informasi manajemen. Bab ini akan berfokus
pada pengelolaan dan pengendalian operasi produksi. Terakhir, kami akan
menjelaskan isu-isu perancangan operasi khusus seperrti layout pabrik, perencanaan
lokasi, manajemen persediaan, produktivitas manufaktur, dan struktur dari
fungsi manajemen operasi.
III. Kekhasan.
Di dalam buku Manajemen Richard L. Daft
tidak hanya menjelaskan secara tepat apa itu manajemen, tetapi ia juga menguraikan
setiap langkah dan setiap tahab yang
harus diambil organisasi untuk menjadi yang terbaik di dalam berorganisasi.
Termaksud semua strategi, taktik, contoh-contoh, keterampilan, dan berbagai
wacana yang sangat menarik untuk di baca.
IV. Rekomendasi.
Buku ini baik
sebagai referensi untuk organisasi yang baru dibentuk dan berdiri di lingkungan
yang kompetitif.
NO. 2 Uraian
I.
Data Buku
a.
Judul buku : Manajemen
b.
Pengarang : James A.F.Stoner
c.
Penerbit : Erlangga
d.
Edisi : Ke-2
e.
Tahun terbit : 1992 / 352 halaman
f. Tujuan : Untuk
memberikan informasi yang berguna dan relevan kepada
pembaca, dan untuk memberikan kepada pembaca pemahaman
tentang bidang manajemen. .
II. Pokok
Bahasan
Buku
ini terbagi ke dalam 23 bab, yang di mulai dari bab 14, yang membahas dari apa,
mengapa, dan bagaimana membentuk suatu organisasi.
Bab
14 membahas tentang manajemen perubahan dan pengembangan organisasi.
Pada
bagian bab ini akan lebih memusatkan perhatian pada program sistematis untuk
melaksanakan perubahan terencana dalam organisasi itu atau sub-unitnya. Kekuatan-kekuatan
yang memaksakan diadakannya perubahan setelah tiba waktunya untuk melaksanakan
perubahan tersebut dan usaha mengatasi rintangan terhadap perubahan itu, akan
dibahas pada gilirannya. Cara-cara pendekatan terhadap perubahan terencana
dengan penekanan pada teknik yang dikenal sebagai pengembangan organisasi (organizational development-OD) akan
melengkapi pembahasan ini.
Bab
15 membahas tentang manajemen konflik dan kreatifitas organisasi.
Pada bagian bab ini banyak menguraikan
bagaimana konflik dalam organisasi dapat dikelola secara efektir dan bagaimana
pembaharuan serta kreaktifitas dapat dikembangkan. Dengan membahas konflik dan
kreaktifitas ini kita akan banyak melihat, bahwa kedua masalah ini kerapkali
saling berhubungan. Terlalu banyak atau terlalu sedikit konflik dapat
merintangi krreaktivitas, sedangkan konflik yang tidak dikelola dengan baik dapat
menimbulkan akibat yang sama. Akan tetapi jika konflik dapat dikelola dengan
baik, maka masalah-masalah yang timbul dapat dipecahkan secara efektif dan
pemecahannya pun akan lebih baik.
Bab
16 membahas tentang motivasi, prestasi, dan kepuasan.
Motivasi yaitu hal yang menyebabkan,
menyalurkan, dan mendukung perilaku manusia yang selalu merupakan bahan yang
penting dan membingungkan bagi para manajer. Motivasi penting karena manajer,
menurut definisi, bekerja bersama dan melalui orang lain. Mereka memerlukan
pemahaman tentang mengapa orang berbuat seperti yang mereka lakukan sehingga
mereka dapat mempengaruhi orang untuk bertindak sesuai dengan keinginan
organisasi. Motivasi bukanlah satu-satunya yang mempengaruhi tingkat prestasi
seseorang. Ada dua factor yang terlibat yaitu kemampuan perseorangan dan
pemahamannya tentang perilaku apa yang diperlukan untuk mencapai prestasi
tinggi, factor ini disebut persepsi peran (role
perception). Motivasi, kemampuan, dan persepsi peran saling berkaitan. Jadi
jika salah satu factor rendah, tingkat prestasi cenderung akan rendah, meskipun
faktor-faktor lainnya tinggi. Pada bab ini, banyak membahas tentang bagaimana
manajer dapat memotivasi bawahan sehingga prestasi dan kepuasan mereka akan
meningkat.
Bab
17 membahas tentang kepemimpinan.
Ralph
M. Stogdill, dalam surveinya mengenai teori dan riset kepemimpinan telah
menunjukkan bahwa “ada banyak definisi yang berlainan tentang kepemimpinan hampir
sebanyak orang berusaha mendefinisikan konsep tersebut”. Pada bagian Bab ini
ada 3 implikasi kepemimpinan yang mencakup antara lain pertama, kepemimpinan
harus melibatkan orang lain, bawahan atau pengikut. Kedua, kepemimpinan
melibatkan distribusi yang tidak merata dari kekuasaan di antara pemimpin dan
anggota kelompok. Dan yang ketiga, selain secara sah dapat mengarahkan bawahan
atau pengikut mereka, pemimpin juga dapat mempunyai pengaruh. Pada bab ini juga
banyak membahas tentang hakikat kepemimpinan, gaya kepemimpinan, dan sistem
kepemimpinan.
Bab
18 membahas tentang komunikasi antar pribadi dan organisasi.
Komunikasi yang efektif penting bagi
manajer karena dua alasan. Pertama, komunikasi adalah proses dengan mana
fungsi-fungsi manajemen, merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, dan
mengendalikan dilaksanakan. Kedua, komunikasi adalah kegiatan dimana manajer
mencurahkan sebagian besar dari waktunya. Dalam Bab ini banyak membahas
komunikasi bagi organisasi. Pertama, banyak di sajikan model komunikasi antar
pribadi, menguraikan hambatan terhadap komunikasi antar pribadi yang efektif,
dan menyarankan cara-cara untuk mengatasi hambatan ini. Kedua, banyak
diperlihatkan bagaimana berbagai macam saluran komunikasi dalam organisasi akan
mempengaruhi variable-variabel seperti prestasi kelompok, kemunculan pemimpin,
dan motivasi serta kepuasan anggota kelompok. Dan kemudian akan membahas
masalah komunikasi naik dan turun melalui rantai komando organisasi, serta
jalur komunikasi informal yang berkembang dalam organisasi. Dan pada akhirnya
akan dibahas cara-cara mengatasi hambatan organisasi (dan bukan lagi hanbatan
antar pribadi) terhadap komunikasi yang efektif.
Bab
19 membahas tentang penataan staf dan fungsi personalia.
Penataan staf (staffing) adalah fungsi manajemen yang berhubungan dengan
pengadaan atau rekrutmen (recruitment),
penempatan, pelatihan, dan pengembangan para anggota organisasi. Dalam bab ini juga
membahas bagaimana organisasi menentukan sumber-daya manusia seperti apa yang
mereka butuhkan sekarang dan masa yang akan datang. Bagaimana manajer melakukan
pengadaan dan seleksi manusia yang paling potensial untuk tiap-tiap posisi,
bagaimana para manajer melatih orang sehingga mereka dapat bekerja secara efektif.
Dan akhirnya apa saja macam-macam program pengembangan yang akan dapat menjamin
denga sebaik-baiknya arus yang konstan dari bakat manajerial mulai dari tingkat
bawah sampai tingkat atas dalam organisasi.
Bab
20 membahas tentang karir organisasi dan pengembangan individu.
Pada bagian bab ini banyak membahas
bagaimana seseorang mengatur karir orang lain atau mengatur sumber-daya
organisasi. Perhatian sekarang ditumpahkan pada perkembangan masa depan pembaca
sebagai seorang manajer. Bab ini juga banyak menguraikan pengaruh dan pengalaman
pertama dalam perusahaan terhadap prestasi dan kepuasan individu di masa
datang, dilemma-lema yang mungkin dihadapi seorang manajer mudah dalam
karirnya, tahab-tahab yang akan dilalui dalam karir. Dan akhirnya bagaimana
individu dapat berperan aktif dalam mengelolah karirnya sehingga mereka dapat
menyadari tujuan pengembangan karirnya.
Bab
21 membahas tentang pengendalian.
Pengendalian manajemen adalah usaha
sistematis untuk menetapkan standar prestasi (performance standard) dengan perencanaan sasarannya guna mendisain
sistem informasi umpan balik, membandingkan prestasi kerja tadi dengan standar
yang telah ditetapkan terlebih dahulu, menentukan apakah ada penyimpangan (deviation) dan mencatat besar kecilnya
penyimpangan ini dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk memastikan, bahwa
semua sumber perusahaan dimamfaatkan secara seefektif dan seefisien mungkin
guna mencapai tujuan perusahaan. Mockler menjelaskan
bahwa ada 3 langkah di dalam proses pengendalian yaitu pertama, menetapkan standard
an metode untuk mengukur prestasi. Langkah ini dapat mencakup penetapan standar
ukuran untuk segala macam keperluan, mulai dari target penjualan dan produksi
sampai kepada daftar absensi dan keamanan. Kedua, mengukur prestasi kerja.
Langkah ini merupakan proses yang bersinambungan, repetitive (berulang-ulang)
dalam mana frekuensinya tergantung kepada jenis aktivitas yang sedang diukur.
Dan langkah terakhir adalah mengambil tindakan korektif, jika hasil-hasil yang
dicapai tidak memenuhi standar dan analisis menunjukkan perlunya diambil
tindakan. Tindakan korektif ini berupa mengadakan perubahan terhadap satu atau
lebih banyak aktivitas dalam operasi organisasi, atau terhadap standar yang
telah ditetapkan semula.
Bab
22 membahas tentang pengendalian keuangan.
Dalam Bab ini banyak membahas
macam-macam metode pengendalian yang dapat dipegunakan oleh para manajer,
teristimewa laporan keuangan (financial
statement), analisis ratio dan analisis keseimbangan (break-even analysis), demikian pula budget dan pemeriksaan
pembukuan (audit).
Bab
23 membahas tentang melaksanakan pengendalian yang efektif.
Melakukan pengendalian secara efektif
juga merupakan hal yang sangat penting. Ketegasan dan konsistensi para manajer
akan dapat membantu kita untuk memonitor kemajuan ke arah tujuan yang
diinginkan, sehingga kegiatan organisasi dapat dilaksanakan sesuai dengan
rencana. Dalam bab ini banyak membahas tentang bagaimana sistem informasi
organisasi dapat membantu manajer dengan informasi yang diperlukan untuk
melakukan pengendalian secara efektif. Pada bagian Bab ini juga, banyak
mempelajari secara terperinci bekerjanya sistem informasi manajemen (MIS),
terutama MIS yang dikomputerisasi dan membahas masalah yang harus diatasi oleh
manajer agar supaya dapat melaksanakan pengendalian secara efektif.
III. Kekhasan
Di dalam buku Manajemen James
A.F.Stoner tidak hanya menjelaskan secara tepat apa itu manajemen, tetapi ia
juga menguraikan setiap langkah dan setiap tahab poin-poin yang harus diambil organisasi, dan
yang harus di mengerti bagaimana menjadikan atau memajukan sebuah organisasi.
Termaksud semua strategi, taktik, gambaran, design gambar atau peta konsep
sehingga dapat mudah dimerti pembaca.
IV. Rekomendasi
Buku ini baik sebagai
referensi untuk organisasi yang baru dibentuk dan berdiri di lingkungan yang
kompetitif, dan juga baik di gunakan oleh kalangan mahasiswa.
NO. 3 Uraian
I.
Data Buku
a.
Judul buku : Management
of organizational Behavior
Utilizing Human Resources, 4tb Edition
b.
Pengarang : Paul
Hersey, Kenneth H. Blanchard
c.
Penerbit : Erlangga
d.
Edisi : Ke-4
e.
Tahun terbit : 1995 / 392 halaman
f.
Tujuan : Edisi
keempat ini memfokuskan konsep tentang kuasa
(power) dan penerapannya bagi
efektivitas kepemimpinan.
II. Pokok
Bahasan :
Buku
ini terbagi ke dalam 13 bab, yang membahas dari apa, mengapa, dan bagaimana
membentuk suatu perilaku organisasi (pendayagunaan sumber daya manusia).
Bab
1 membahas tentang Manajemen : suatu pendekatan perilaku.
Kontribusi awal dalam ilmu perilaku,
menurut Mayo, tampaknya hanya menyediakan pengetahuan tanpa mengakibatkan
perubahan perilaku. Buku ini akan berfokus pada empat level perubahan dalam
diri orang-orang yaitu Perubahan pengetahuan, perubahan sikap, perubahan
perilaku, dan perubahan prestasi kelompok atau organisasi.
Bab
2 membahas tentang motivasi dan perilaku.
Perilaku
pada dasarnya berorientasi tujuan. Dengan kata lain, perilaku kita pada umumnya
dimotivasi oleh keinginan untuk memperoleh tujuan tertentu. Sigmud Freud adalah
orang pertama yang menyadari pentingnya motif bawah sadar. Frend percaya bahwa
orang-orang tidak selamanya menyadari hal-hal yang diinginkannya, dan karenanya
kebanyakan perilaku-perilaku dipengaruhi oleh motif atau kebutuhan bawah sadar.motif
adalah ikhwal”mengapanya” perilaku. Motif timbul dan mempertahankan aktivitas
serta menentukan arah umum perilaku seseorang.
Bab 3 membahas tentang memotivasi lingkungan.
Pada bab ini
banyak membahas masalah teori-teori motivasi lingkungan seperti teori X dan
teory Y, teori X berasumsi bahwa orang-orang pada umumnya lebih suka diarahkan,
enggan memikul tanggung jawab dan lebih menginginkan keselamatan di atas
segalanya. Sedangkan teori Y ini berasumsi bahwa orang-orang menurut hakikatnya,
tidak malas dan dapat dipercaya. teori tidak dewasa-dewasa, teori dalam
praktek, teori motivasi iklim baik, dan lainnya.
Bab 4 membahas tentang perilaku pemimpin.
Menurut
George R. Terry, “kepemimpinan adalah aktivitas mempengaruhi orang-orang untuk
berusaha mencapai tujuan kelompok secara suka rela. Robert Tannenbaum, Irving
R. Weschler, dan Fred Messarik mendefenisikan kepemimpinan sebagai “pengaruh
antarpribadi yang dilakukan dalam suatu situasi dan diarahkan, melalui proses
komunikasi, pada pencapaian tujuan atau
tujuan-tujuan tertentu. Harold Koontz dan Cyril O’Donnel mengemukakan bahwa
“kepemimpinan adalah upaya mempengaruhi orang-orang untuk ikut dalam pencapaian
tujuan bersama”.
Bab 5 membahas tentang menentukan efektivitas.
Dalam
membicarakan efektivitas, sekali lagi penting membedakan antara manajemen dan
kepemimpinan. Seperti yang telah dibicarakan dalam Bab 1, kepemimpianan adalah
konsep lebih luas daripada manajemen. Manajemen dipandang sebagai jenis
kepemimpinan khusus di mana pencapaian tujuan organisasi merupakan hal yang
terpenting. Setiap saat anda berupaya mempengaruhi perilaku orang lain anda
sedang melakukan proses kepemimpinan, oleh karena itu, jelas bahwa seluruh
perilaku kepemimpinan anda tidak diarahkan pada pencapaian tujuan organisasi.
Nyatanya, sering kali ketika anda berusaha mempengaruhi orang lain anda bahkan
bukan bagian dari suatu organisasi. Sebagai contoh, apabila anda berusaha
mendapatkan beberapa kawan untuk pergi ke suatu tempat dengan anda, anda tidak
bertindak dalam arti manajemen, tetapi yang pasti anda sedang mengupayakan
kepemimpinan.
Bab 6 membahas tentang mendiagnosis lingkungan.
Lingkungan
dalam suatu organisasi terdiri dari pemimpin, para pengikut pemimpin itu,
atasan, rekan sejawat, orgnisasi, dan tuntutan pekerjaan. Daftar itu tidaklah inklusif,
tetapi berisi beberapa komponen yang saling berinteraksi yang penting diketahui
pemimpin. Seperti yang diilustrasikan dalam figure 6-1, lingkungan yang
dihadapi manajer dapat memiliki beberapa variable situasional yang khusus serta
memiliki lingkungan eksternal yang mempengaruhinya.
Bab 7 membahas tentang kepemimpinan situasional.
Pentingnya,
kemampuan diagnostic bagi seorang manajer tidak dapat diabaikan begitu saja.
Edgar H. Schein mengungkapkan hal itu dengan tepat sekali pada saat menyatakan
bahwa “manajer yang berhasil haruslah seorang pendiagnosis yang baik dan motif
orang-orang yang dibawahinya sangat bervariasi, maka ia harus memiliki
kemampuan diagnostic dan kepekaan untuk dapat menginderai dan menghargai
perbedaan-perbedaan itu”.dengan kata lain, para manajer harus mampu
mengidentifikasi isyarat-isyarat dalam suatu lingkungan.tetapi, dengan
kemampuan diagnostic yang baik sekalipun, para pemimpin masih belum efektif
kecuali mereka dapat mengadaptasi gaya kepemimpinan mereka untuk memenuhi
tuntutan lingkungan mereka. “pemimpin harus memiliki keluwesan pribadi dan
jajaran kemampuan yang diperlukan untuk memvariasikan perilakunya sendiri.
Pabila kebutuhan dan motif bawahannya berbeda-beda, maka mereka harus
diperlakukan secara berbeda-beda pula”.
Bab 8 membahas tentang kepemimpinan situasional,
persepsi, dan dampak kuasa.
Sekalipun
penggunaan istilah “kuasa” banyak digunakan dalam literature manajem, tetapi
ada semacam kerancuan dalam hal defenisinya. Sering kali para sarjana
mencampuradukkan konsep kuasa dengan konsep-konsep lain, seperti pengaruh (influence) dan wewenang (authority). Russell mengartian kuasa
sebagai “kemampuan menggunakan kekuatan”. Wrong membatasi arti kuasa sebagai
keberhasilan mengendalikan orang lain. French mengartikan kuasa yang dimiliki A
atas B sebagai “sama dengan kekuatan maksimum yang dapat dilakukan A atas B
sebagai “sama dengan kekuatan maksimum yang dapat dilakukan A terhadap B
dikurangi dengan kekuatan maksimum yang dapat dimobilisasi B dalam arah yang
berlawanan. “Bagi Dahl,” A memiliki kuasa atas B sejauh bahwa A dapat
menggerakkan B melakukan sesuatu yang apabila A tidak memiliki kuasa itu B
tidak akan melakukannya.
Bab 9 membahas tentang sumber daya manusia.
Likert
menemukan bahwa supervisor yang berorientasi pegawai yang menerapkan supervise
umum cenderung mengapalai bagian-bagian yang berproduksi lebih tinggi
dibandingkan dengan para supervisor berorientasi tugas yang menyelia seca
ketat. Kami menekankan kata-kata cenderung karena hal ini tampaknya merupakan
hal yang umum di jumpai di kalangan masyarakat, sekalipun demikian, kita harus
juga menyadari adanya pengecualian dari kecenderungan itu, yang bahkan terbukti
dari data Likert sendiri. Apa yang terungkap dari studi Likert adalah bahwa
bawahan umumnya sangat tanggap dengan harapan tinggi dari atasan yang
benar-benar yakin atas diri mereka dan karena
mereka berusaha mewujudkan harapan itu.
Bab 10 membahas tentang Pendisiplinan yang
konstruktif.
Dalam bab
ini akan dicoba membantu para manajer
untuk menentukan hal-hal yang perlu dilakukan apabila orang-orang mereka
mulai menyimpang dari berperilaku kurang matang dibandingkan dengan hal-hal
yang telah diperhatikan di masa lalu.
Bab 11 membahas tentang membangun hubungan yang
efektif.
Dalam dua bab
terakhir ini penekanan dilakukan pada upaya membantu para pemimpin
mengembangkan potensi orang-orangnya secara penuh. Upaya ini mencakup
penyesuaian gaya kepemimpinan mereka ke depan dan ke belakang (mengikuti garis
kurvilinier kepemimpinan situasional) dan dengan demikian memamfaatkan
berbagai kadar arahan dan dukungan pada
saat tingkat kematangan dan perkembangan pengikut menarik atau menurun. Penyesuaian
gaya kepemimpinan yang terus-menerus ini tampaknya menghendaki keluesan
pemimpin untuk dapat menerapkan berbagai gaya kepemimpinan yang bergantung pada
situasinya.
Bab 12 membahas tentang perencanaan dan penerapan
perubahan.
Dalam
masyarakat dinamis yang mengitari organisasi dewasa ini, persoalan tentang
apakah perubahan akan terjadi tidak lagi relevan. Sebaliknya, isyunya adalah
bagaimana para manajer dan pemimpin mengatasi desakan perubahan yang tidak
dapat diletakkan, yang mengkonfrontasi mereka sehari-hari, dalam upaya
mempertahankan organisasi mereka agar tetap aktif dan mutakhir? Meskipun
perubahan adalah kenyataan hidup, apabila manajer ingin efektif, mereka tidak
lagi dapat membiarkan perubahan itu terjadi sebagaimana adanya. Mereka harus
menyusun strategi untuk merencanakan, mengarahkan, dan mengendalikan perubahan.
Bab 13 membahas tentang mensintesiskan teori manajemen
pendekatan holistic.
Dalam bab
ini banyak membahas tentang untaian-untaian sudut pandang untuk meningkatkan
mamfaat masing-masing secara signifikan dalam upaya diagnosis dan prediksi.
Dalam Bab terakhir ini, penulis berusaha memadukan keseluruhan teori itu,
dengan menggunkan kepemimpinan situasional (yang dibicarakan dalam Bab 7)
sebagai karangka sintesis untuk menggambarkan kesamaannya.
III. Kekhasan
Di dalam buku Manajemen Perilaku
Organisasi Pemberdaya Sumber Daya Manusia Paul Hersey, dan Kenneth H. Blanchard
tidak hanya menjelaskan secara tepat apa itu manajemen perilaku organisasi,
tetapi ia juga menguraikan setiap langkah dan setiap tahab poin-poin yang harus diambil organisasi, dan
yang harus di mengerti bagaimana menjadikan atau memajukan sebuah organisasi
dengan teori-teori perilaku itu. Termasuk semua strategi, taktik, gambaran,
design gambar atau peta konsep sehingga dapat mudah dimerti pembaca.
IV. Rekomendasi
Buku ini
baik sebagai referensi untuk organisasi yang baru dibentuk dan berdiri di
lingkungan yang kompetitif, dan juga baik di
gunakan oleh kalangan mahasiswa.
NO. 4 Uraian
I.
Data Buku
a.
Judul buku : Manajemen Sumber Daya Manusia Lanjutan.
b.
Pengarang : Fauziah
Agustini
c.
Penerbit : Madenatera
d.
Edisi : Ke-1
e.
Tahun terbit : 2011 / 149 halaman
f.
Tujuan : Lebih memfokuskan terhadap pengelolaan
sumber daya
manusia di
dalam suatu organisasi, agar tercapainya
keberhasilan
organisasi.
II. Pokok
Bahasan :
Buku
ini terbagi ke dalam 10 bab, yang membahas dari apa, mengapa, dan bagaimana cara
agar terciptanya pengelolaan sumber daya manusia di dalam organisasi yang
berkompeten.
Bab
1 membahas tentang iklim kerja.
Pengendalian iklim kerja merupakan salah
satu cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas sumber daya
manusia. Iklim kerja didefinisikan sebagai suasana psikologis yang dapat
mempengaruhi perilaku anggota organisasi, terbentuknya sebagai hasil tindakan organisasi
dan interaksi diantara anggota organisasi. Oleh karena perilaku merupakan
fungsi dari karakteristik manusia dan persepsinya terhadap lingkungan, maka
persepsi anggota organisasi terhadap iklim kerja yang terbentuk dilingkungan
kerjanya akan mempengaruhi perilakunyadalam bekerja, dimana hal ini selanjutnya
akan berpengaruh terhadap hasil kerjanya. Persepsi yang positif terhadap iklim
kerja tentu saja akan memberikan hasil kerja yang positif, demikian juga
sebaliknya. Oleh karena itu, dengan merubah persepsi anggota organisasi
terhadap iklim kerja dapat menghasilkan peningkatan produktivitas kerja.
Bab
2 membahas tentang pemeliharaan karyawan.
Pemeliharaan (maintenance) adalah usaha perusahaan untuk dapat meningkatkan
kondisi fisik, mental, dan sikap karyawan, agar mereka tetap loyal dan bekerja
produktif untuk menunjang tercapainya tujuan perusahaan. Supaya karyawan semangat
bekerja, berdisiplin tinggi, dan bersikap loyal dalam menunjang tujuan
perusahaan maka fungsi pemeliharaan mutlak mendapat perhatian manajer.tidak
mungkin karyawan bersemangat bekerja dan konsentrasi penuh terhadap
pekerjaannya jika kesejahteraan mereka tidak diperhatikan dengan baik.
Pemeliharaan karyawan merupakan fungsi operasional berarati memelihara tenaga
kerja agar betah bekerja di perusahaan tersebut.
Bab
3 membahas tentang motivasi kerja.
Motivasi menyangkut perilaku manusia dan
merupakan unsure yang vital dalam manajemen. Motivasi merupakan kegiatan yang
mengakibatkan seseorang menyelesaikan pekerjaannya dengan semangat, rela, dan
penuh tanggung jawab. Motivasi merupakan satu penggerak dari dalam hati
seseorang untuk melakukan atau mencapai sesuatu tujuan. Motivasi juga bisa
dikatakan sebagai rencana atau keinginan untuk menuju kesuksesan dan menghindari
kegagalan hidup. Dengan kata lain motivasi adalah sebuah proses untuk
tercapainya suatu tujuan.
Bab
4 membahas tentang kepuasan kerja.
Kepuasan kerja merupakan hal yang
bersifat individual. Setiap individual biasanya memiliki tingkat kepuasan yang
berbeda-beda. Kepuasan kerja merupakan keadaan emosional yang menyenangkan
maupun tidak menyenangkan dimana para karyawan memandang pekerjaannya. Hal ini
dapat dilihat pada sikap karyawan terhadap pekerjaannya, mereka akan bersikap
positif bila merasa sudah puas atau akan bersikap negative bila merasa tidak
puas. Kepuasan kerja tersebut tentu saja dapat mempengaruhi perilaku kerja
karyawan seperti malas, rajin, produktif, dan lain-lain.
Bab
5 membahas tentang semangat kerja
Menurut Moekijat (1997) menyatakan bahwa
semangat kerja menggambarkan perasaan berhubungan dengan jiwa, semangat
kelompok kegembiraan, dan kegiatan. Apabila pekerja tampak merasa senang,
optimis mengenai kegiatan dan tugas, serta ramah satu sama lain, maka karyawan
itu dikatakan mempunyai semangat kerja yang tinggi. Sebaliknya, apabila
karyawan tampak tidak puas , lekas marah, sering sakit, suka membantah,
gelisah, pesemis, maka reaksi ini dikatakan sebagai bukti semangat yang rendah.
Bab
6 membahas tentang disiplin kerja.
Menurut Soegeng Prijodarminto (1990)
disiplin sebagai kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari
serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan,
kesetiaan, keteraturan dan atau ketertiban. Dalam hal ini, sikap dan perilaku
yang demikian tercipta melalui proses binaan keluarga, pendidikan dan
pengalaman atau pengenalan dari keteladanan dari lingkungannya. Disiplin akan
membuat seseorang dapat membedakan hal-hal apa saja yang seharusnya dilakukan,
yang wajib dilakukan, yang boleh dilakukan dan yang tidak seharusnya dilakukan
(karena merupakan hal-hal yang dilarang).
Bab
7 membahas tentang prestasi kerja.
Istilah prestasi kerja mengandung
berbagai pengertian. Secara etimologi, kinerja berasal dari kata prestasi kerja
(performance). Sebagaimana
dikemukakan oleh A.P Mangkunegara (2005) bahwa istilah kinerja berasal dari
kata job performance atau actual performance (prestasi kerja atau
prestasi sesunguhnya yang dicapai seseorang) yaitu hasil kerja secara kualitas
dan kuantitas yyang dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya
sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Bab
8 membahas tentang produktivitas kerja.
Secara umum, menurut ILO produktivitas
diartikan sebagai hubungan antara hasil nyata maupun fisik dengan masukan yang
sebenarnya. Menurut Payman J. Simanjuntak (1987) produktivitas adalah kesadaran
untuk menghasilkan sesuatu yang lebih banyak daripada yang telah atas sedang
berada dalam usahannya. Berdasarkan pendapat dari para ahli maka dapat
disimpulkan bahwa produktivitas merupakan seluruh hasil kerja yang dinilai yang
dilakukan oleh seorang karyawan terhadap pekerjaannya.
Bab
9 membahas tentang komitmen organisasi.
Komitmen adalah kemampuan dan kemauan
untuk menyelaraskan perilaku pribadi dengan kebutuhan, prioritas dan tujuan
organisasi. Hal ini mencakup cara-cara mengembangkan tujuan atau memenuhi
kebutuhan organisasi yang intinya mendahulukan misi organisasi daripada
kepentingan pribadi. Menurut N.J.Allen & J.P Meyer (1997), komitmen dapat
juga berarti penerimaan yang kuat individu terhadap tujuan dan nilai-nilai
organisasi, dan individu berupaya serta bekarya dan memiliki hasrat yang kuat
untuk tetap bertahan di organisasi tersebut.
Bab
10 membahas tentang loyalitas kerja.
W.J.S
Poerwadarminta (1996) menyatakan loyal adalah patuh, setia. Apabila karyawan
bekerja pada suatu perusahaan, dan perusahaan tersebut telah memberikan fasilitas-fasilitas
yang memadai dan diterima oleh karyawannya, maka kesetiaan karyawan terhadap
perusahaan akan semakin besar, maka timbul dorongan yang menyebabkan karyawan
melakukan pekerjaan menjadi lebih giat laigi. Richard M. Steers, L.W. P6rter
dan R.T Mowday (1982) berpendapat bahwa : 1) loyalitas kepada perusahaan sebagasi sikap
yaitu sejauh mana seseorang karyawan mengidentifikasikan tempat kerjanya yang
ditunjukkan dengan keinginan untuk bekerja dan berusaha sebaik-baiknya. 2)
loyalitas terhadap perusahaan sebagai perilaku, yaitu proses dimana seseorang
karyawan mengambil keputusan pasti untuk tidak keluar dari perusahaan apabila
tidak membuat kesaahan yang ekstrim. Berdasaran pendapat di atas disimpulkan
bahwa loyalitas kerja merupakan tekad dan kesanggupan untuk mentaati,
melaksanakan dan mengamalkan sesuatu yang ditaati dengan penuh kesadaran dan
tanggung jawab. Loyalitas juga merupakan suatu aktivitas yang menyangkut fisik,
psikis, dan social yang membuat individu mempunyai sikap untuk mentaati
peraturan yang ditentukan, melakukan dan mengamalkan sesuatu yang ditaatinya
dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab..
III. Kekhasan
Di dalam buku Manajemen Sumber Daya
Manusia Lanjutan Fauziah Agustini tidak hanya menjelaskan secara tepat apa itu
manajemen sumber daya manusia lanjutan, tetapi ia juga menguraikan setiap
langkah dan setiap tahab poin-poin yang
harus diambil organisasi, dan yang harus di mengerti bagaimana menjadikan atau
memajukan sebuah organisasi dengan teori-teori tersebut. Termasuk semua
strategi, pengertian, taktik, gambaran, design gambar atau peta konsep sehingga
dapat mudah dimerti pembaca.
IV. Rekomendasi
Buku ini
baik sebagai referensi untuk organisasi yang baru dibentuk dan berdiri di
lingkungan yang kompetitif, dan juga baik di gunakan
oleh kalangan mahasiswa dan golongan lainnya.
NO.
5 Uraian
I.
Data Buku
a. Judul
buku : Manajemen
Transportasi
b. Pengarang : Drs.
H. A. Abbas Salim
c. Penerbit : PT
RajaGrafindo Persada
d. Edisi
: Ke-1
e. Tahun
terbit : 2000
/ 263 halaman
f. Tujuan : Untuk
meningkatkan pengetahuan tentang ilmu transportasi.
.
II. Pokok
Bahasan
Buku
ini terbagi ke dalam 10 bab, yang membahas dari apa, mengapa, dan bagaimana membentuk
manajemen transportasi yang baik.
Bab
1 membahas tentang pendahuluan.
Tujuan yang hendak dicapai dengan
pengembangan ekonomi adalah :
-
Meningkatkan pendapatan nasional, disertai dengan
distribusi yang merata antara penduduk, bidang-bidang usaha dan daerah-daerah.
-
Meningkatkan jenis dan jumlah barang jadi dan jasa
yang dapat dihasilkan para konsumen, industry dan pemerintah.
-
Mengembangkan industry nasional yang dapat
menghasilkan devisa serta mensupply pasaran dalam negeri.
-
Menciptakan dan memelihara tingkatan kesempatan kerja
bagi masyarakat.
Dalam menentukan biaya transportasi, beberapa factor
yang perlu diperhatikan :
-
Perbandingan antara bobot dan volume barang.
-
Kemungkinan kerusakan barang.
-
Kemungkinana merusak barang lain.
-
Harga pasar dari barang tersebut.
-
Jarak angkutan.
-
Keteraturan dan volume angkutan.
-
Tingkatan persaingan dengan sarana angkutan lain, baik
intermodal maupun intramoda.
-
Biaya yang berhubungan dengan jasa-jasa yang
dihasilkan
-
Factor-faktor khusus yang mungkin mempengaruhi
angkatan.
Bab 2
membahas tentang ruang lingkup peranan transportasi.
Transportasi sebagai dasar untuk membangun
ekonomi dan perkembangan masyarakat serta pertumbuhan industrialisasi. Dengan
adanya transportasi, menyebabkan adanya spesialisasi atau pembagian pekerjaan
menurut keahlian menurut keahlian sesuai dengan budaya, adat istiadat dan
budaya suatu bangsa atau daerah. Pada dasarnya peranan transportasi adalah
transportasi dan kehidupan masyarakat, spesialisasi secara geografis, produksi
yang ekonomis. Dan pembangunan nasional dan hankamnas.
Bab 3
membahas tentang permintaan dan penawaran jasa transportasi.
Untuk mengetahui beberapa jumlah
perrmintaan akan jasa angkutan sebenarnya (actual
demand) perlu dianalisis permintaan akan jasa-jasa transportasi sebagai
berikut :
-
Pertumbuhan penduduk.
-
Pembangunan wilayah dan daerah.
-
Perdagangan ekspor dan impor.
-
Industrialisasi.
-
Transmigrasi dan penyebaran penduduk.
-
Analisis dan proyeksi akan permintaan jasa
transportasi.
Dari segi penawaran (supply) jasa-jasa angkutan dapat kita bedakan dari segi :
-
Peralatan yang digunakan.
-
Kapasitas yang tersedia.
-
Kondisi teknis alat angkut yang dipakai.
-
Produksi jasa yang dapat diserahkan oleh perusahaan
angkutan.
-
Sistem pembiayaan dalam pengoperasian alat pengangkutan.
Bab 4
membahas tentang transportasi dan distribusi fisik.
Transaksi perdagangan adalah proses
pemindahan barang dari penjual kepada pembeli dengan pembayaran yang dilakukan
pembeli kepada penjual. Pengertian distribusi termasuk terminology dalam ilmu
ekonomi dan dalam kalangan perindustrian. Dalam bab ini di bahas pengertian
transportasi yang secara umum adalah rangkaian kegiatan memindahkan/mengangkut
barang dari produsen sampai kepada konsumen dengan menggunakan salah satu moda
transportasi, yang dapat meliputi moda transportasi darat, laut/sungai maupun
udara.
Bab 5
membahas tentang biaya, tarif angkutan dan pembentukan harga.
Biaya adalah factor yang menentukan dalam
transportasi untuk penetapan tarif, alat control agar dalam pengoperasian mencapai
tingkat efektivitas dan efisien. Konsep biaya ada 7 yaitu biaya, biaya modal
dan biaya operasional, biaya tetap dan biaya variable, biaya kendaraan, biaya
gabungan, biaya langsung dan tidak langsung, dan biaya unit serta biaya
rata-rata. Sedangkan tarif dikategorikan 3 jenis yaitu tarif menurut kelas,
tarif pengecualian, dan tirif perjanjian atau kontrak. Jenis tarif angkutan ada
4 yaitu tariff menurut trayek, local, diferensial, dan peti kemas.
Bab 6
membahas tentang organisasi, manajemen, dan pengoperasian transportasi.
Pengoperasian untuk masing-masing moda
transportasi berbeda disebabkan sifat, karakteristik, dan jenis alat angkut
yang digunakan tidak sama. Angkutan darat terdiri dari angkutan jalan raya,
angkutan kereta api, dan angkutan sungai, danau dan penyeberangan (ASDP).
Bab 7
membahas tentang pengusahaan angkutan dan pelabuhan (terminal).
Sebagian besar produksi jasa transportasi
yang menyangkut hajat hidup masyarakat (kereta api, pelabuhan udara/laut
dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pelabuahan adalah tempat
berlabuh/ bertambahnya kapal laut serta kendaraan air lainnya, menaikkan dan
menurunkan menurunkan penumpang, bongkar muat barang dan hewan serta merupakan
daerah lingkungan kerja kegiatan ekonomi. Fungsi pelabuhan yaitu sebagai tempat
yang aman berlabuh kapal dan sebagai terminal transfer barang dan penumpang.
Bab 8
membahas tentang pemamfaatan teknologi modern pada angkutan laut (shipping).
Tujuan utama perancangan kapal-kapal
modern adalah terutama untuk menekan biaya persediaan jasa angkutan yang
lazimnya dinyatakan untuk tiap ton muatan yang diangkat. Operasi kapal memiliki
3 fase yaitu waktu kapal berada di pelabuhan untuk melakukan bongkar/muat,
waktu manuvre untuk bersandar pada atau melepas dari dermaga dan di pelabuhan,
dan waktu berlayar antar pelabuahan. Ketiga fungsi adalah dan mutlak untuk melakukan tugasnya sebagai
alat pengangkut barang, dan yang penting bahwa dalam harga jasa angkutan
tercermin biaya-biaya dari ketiga fase tersebut. Tujuan dari pengusaha
pelayaran adalah untuk menentukan alokasi yang paling ekonomis dari waktu kapal
(ship time) antara ketiga fase ini.
Bab 9
membahas tentang resiko dalam pengangkutan.
Dalam transportasi masalah resiko (risk) sering terjadi baik yang
menyangkut jiwa manusia maupun barang-barang muatan serta alat angkutnya (means of transport). Resiko adalah
ketidaktentuan (uncertainty) yang
bisa menyebabkan kerugian. Sifat kerugian disini ada 3 yaitu kerugian terhadap
penumpang yaitu kerugian yang menyangkut jiwa penumpang dan awak pesawat/awak
kapal/crew dan awak bis., kerugian
terhadap alat angkut, muatan, dan freight
yaitu selama dalam perjalanan bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kerugian
yang terjadi dapat diperkecil dengan cara mempertanggungkan, muatan dan freight kepada perusahaan asuransi/
asuransi kerugian, serta kerugian total dan kerugian sebagian (total loss & partial loss) yaitu
kerugian yang berhubungan dengan jiwa seseorang sehingga meninggal dunia
disebut total loss.
Bab 10
membahas tentang QCD dalam SISTRANNAS.
Pengembangan transportasi, yang berperan
sebagai urat nadi kehidupan ekonomi, social budaya, politik, dan pertahanan
keamanan, diarahkan pada terwujudnya SISTRANNAS yang andal dan berkemampuan
tinggi serta diselenggarakan secara terpadu, tertib, lancar, aman, nyaman, dan
efisien dalam menunjang dan sekaligus menggerakkan dinamika pembangunan,
mendukung mobilitas manusia, barang dan jasa, mendukung pola distribusi
nasional, serta mendukung pengembangan wilayah dana peningkatan hubungan
internasional yang lebih memantapkan perkembangan kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara dalam rangka perwujudan wawasan nusantara. Dalam
menggembangkan SISTRANNAS, sampai saat ini Indonesia menghadapi beberapa
masalah utama transportasi, sebagai berikut :
-
Kurangnya keterpaduan sistem transportasi kota.
-
Tingginya biaya perawatan dan perbaikan sarana
transportasi.
-
Menuanya usia armada pesawat udara dan kapal laut.
-
Rendahnya kinerja keuangan dari sistem transportasi.
-
Kurangnya keterpaduan antar moda.
-
Kurangnya pemamfaatan teknologi yang tepat dan murah.
-
Pertumbuhan kota.
-
Lingkungan hidup.
-
Keterbatasan kemampuan dana pemerintah.
-
Kemampuan latihan keterampilan dan perkembangan sumber
daya manusia.
-
Keterbatasan sumber energy dalam negeri.