Rabu, 28 Oktober 2015







NO. 1                                             Uraian
I.        Data Buku
a.       Judul buku    :  Manajemen
b.      Pengarang     :  Richard L. Daft
c.       Penerbit        :  Erlangga
d.      Edisi             :  Ke-5
e.       Tahun terbit :  2001 / 360 halaman
f.       Tujuan          :  Edisi ke lima manajemen  terutama di fokuskan pada pendidikan       
                        manajemen masa depan, dengan mengidentifikasikan dan 
                        menggambarkan elemen dan contoh yang muncul dari paradigma
                        baru manajemen. 
    
II.     Pokok Bahasan                  :    
Buku ini terbagi ke dalam 22 bab, yang di mulai dari bab 15, yang membahas dari apa, mengapa, dan bagaimana membentuk suatu organisasi.
       Bab 15 membahas tentang dasar-dasar perilaku dalam organisasi.
               Perilaku organisasi, umumnya dikenal sebagai OB (organizing behavior), adalah bidang interdisipliner yang ditujukan untuk mempelajari sikap, perilaku, dan kinerja manusia dalam sebuah organisasi. OB mengacu pada konsep dari banyak disiplin, termasuk psikologi, sosiologi, antropologi kebudayaan, teknik industry, ekonomi, etika, konseling kejuruan, demikian pula disiplin manajemen. Konsep dan dasar dari perilaku organisasi penting bagi seorang manajer karena dalam setiap organisasi, manusia mutlak membuat keputusan yang mengatur bagaimana organisasi mendapatkan dan mengelolah sumber daya.

      Bab 16 membahas tentang kepemimpinan dalam organisasi.
               Kepemimpinan (leadership) adalah kemampuan mempengaruhi orang yang mengarah kepada pencapaian tujuan. Definisi ini menggambarkan ide bahwa pemimpin adalah orang lain dalam pencapaian tujuan. Kepemimpinan adalah resiprokal (saling timbal-balik), terjadi di antara orang-orang. Pada bab ini, membahas satu dari topic manajemen yang paling banyak diskusikan dan diteleti-kepemimpinan. Di sini juga akan didefinisikan kepemimpinan, membahas perbedaan antara pemimpin dengan manajer, dan mendiskusikan sumber kekuatan pemimpin. Di bab ini juga akan diberikan ciri-ciri, perilaku, dan teori kontinjensi dari efektivitas kepemimpinan. Bab ini juga akan banyak mendiskusikan gaya kepemimpinan baru seperti pendekatan transformasional dan karismatik. Bab ini ditutup dengan diskusi kepemimpinan bagi organisasi pembelajaran. Bab 17 hingga 19 mencakup banyak fungsi kepemimpinan, termasuk motivasi karyawan, komunikasi, dan memimpin kelompok.

      Bab 17 membahas tentang motivasi dalam berorganisasi.
               Motivasi (motivation) mengacu pada dorongan, baik dari dalam atau dari luar diri seseorang yang memunculkan antusiasme dan kegigihan untuk melakukan tindakan tertentu.motivasi karyawan mempengaruhi produktivitas kerja, dan sebagian pekerjaan menejer adalah untuk menyalurkan motivasi ke arah pemenuhan tujuan organisasi. Pada bab ini juga akan dibahas teori dan model motivasi karyawan. Pertama kita akan mengkaji beberapa perspektif motivasi dan cakupan model yang menerangkan kebutuhan karyawan, dan proses yang dikaitkan dengan motivasi. Kemudian kita akan mendiskusikan bagaimana desain pekerjaan (job design) – mengubah struktur kerja itu sendiri – dapat mempengaruhi kepuasan dan produktivitas karyawan. Akhirnya, kita akan mempelajari tren pemberdayaan (empowerment), dimana otoritas dan pembuatan keputusan didelegasikan pada bawahan untuk meningkatkan motivasi karyawan.

      Bab 18 membahas tentang komunikasi dalam organisasi.
               Komunikasi (communication) dapat didefinisikan sebagai proses di mana informasi dipertukarkan dan dimengerti oleh dua orang atau lebih, biasanya dengan maksud untuk memotivasi atau mempengaruhi perilaku. Komunikasi tidak hanya mengirimkan informasi. Pada bab ini dijelaskan mengapa eksekutif seperti Robert Strauss, Jim Chesterton, dan Jhon Chambers merupakan komunikator yang efektif. Pertama, kita akan melihat mengapa pekerjaan manajer membutuhkan komunikasi. Lalu, kita akan mendefinisikan komunikasi dan menerangkan sebuah model proses komunikasi. Kemudian kita akan membahas aspek interpersonal dari komunikasi, termasuk saluran komunikasi, persuasi, dan keterampilan mendengarkan, yang mempengaruhi kemampuan manajer untuk berkomunikasi. Setelah itu, kita akan mencermati organisasi secara keseluruhan dan membahas komunikasi formal ke atas dan ke bawah, dengan demikian pula komunikasi informal. Akhirnya, kita akan mempelajari dan mengetahui hambatan komunikasi dan cara mengatasinya.

      Bab 19 membahas tentang kerja tim dalam organisasi.
               Sebuah tim (team) adalah sebuah unit yang terdiri dari 2 orang atau lebih yang berinteraksi dan mengkoordinasikan pekerjaan mereka untuk menyelesaikan sebuah tugas yang spesifik. Definisi ini mempunyai 3 komponen. Pertama, diperlukan 2 orang atau lebih. Tim dapat cukup besar, walaupun kebanyakan kurang dari 15 orang. Kedua, orang dalam sebuah tim melakukan interaksi secara teratur. Orang yang tidak berinteraksi, seperti orang yang berdiri dalam antrian di tempat makan siang atau orang yang ada di tengah jalan, tidak membentuk tim. Dan ketiga, orang dalam sebuah tim berbagi sebuah tujuan berkinerja, apakah merancang computer genggam yang baru, membangun mobil, atau menulis buku teks. Pada bab ini berfokus pada tim dan aplikasi barunya dalam organisasi. Kita akan mendefinisikan beberapa jenis tim, menggali tahab perkembangannya, dan mempelajari beberapa karakteristik seperti ukuran, keeratan, dan norma. Kita akan mendiskusikan bagaimana individu dapat berkontribusi pada tim, dan mengkaji keuntungandan kerugian yang dihubungkan dengan kerja tim. Tim merupakan aspek penting bagi kehidupan organisasi dan kemampuan mengaturnya merupakan komponen penting bagi kesuksesan manajer dan organisasi.

      Bab 20 membahas tentang dasar-dasar pengendalian mutu.
               Pengendalian adalah isu yang dihadapi semua manajer di setiap organnisasi dewasa ini. Pada bagian bab ini akan diperkenalkan mekanisme pasar dalam pengendalian organisasi. Bab ini akan dimulai dengan mengikhtisarkan struktur dasar dan tujuan dari proses pengendalian.. kemudian akan dilanjutkan dengan membahas topic pengendalian kinerja keuangan, termaksuk penggunaan anggaran. Seksi-seksi berikutnya akan mengkaji prespektif pengendalian yang relative baru, yaitu perubahan filosofi pengendalian, pemamfaatan manajemen mutu total, dan tren terbaru seperti open-book management dan standar pengendalian mutu internasional. Bab ini akan diakhiri dengan merangkum karakteristik-karakteristik dari sistem pengendalian yang efektif.

      Bab 21 membahas tentang sistem informasi dan teknologi informasi.
               Teknologi informasi (information technology) sebuah organisasi terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, perangkat telekomunikasi, manajemen basis data, dan teknologi lain yang digunakan untuk menyimpan data dan membuat data tersedia dalam bentuk informasi kepada pembuat keputusan organisasi.teknologi ini, menyediakan akses bagi para manajer dan karyawan organisasi ke dalam basis data pelanggan dan informasi organisasi yang kompleks. Semakin tersedia dan murahnya teknologi informasi menghadirkan tekanan bagi organisasi untuk berinvestasi dalam perangkat keras, perangkat lunak, teknologi pemerosesan informasi lainnya agar tidak kehilangan posisi pasar.

      Bab 22 membahas tentang manajemen operasi dan manajemen pelayanan.
               Manajemen operasi (operations management) secara formal didefinisikan sebagai bidang manajemen yang berspesialisasi dalam produksi barang dan jasa, dan menggunakan perangkat dan teknik khusus untuk memecahkan masalah manufaktur. Pada dasarnya, manajer operasi mengurusi aktivitas produksi di dalam organisasi. Hal ini meliputi keputusan tentang dimana fasilitas seharusnya berlokasi dan peralatan apa yang harus ada di dalamnya. Namun, sama seperti semua area manajemen yang lain, manajemen operasi juga memerlukan kemampuan untuk memimpin orang. Selanjutnya manajemen pelayanan disini, terbagi menjadi 2 yaitu pelayanan yang bergerak di organisasi manufaktur dan jasa. Organisasi manufaktur adalah organisasi yang menghasilkan barang fisik. Sedangkan organisasi jasa adalah organisasi yang menghasilkan output nonfisik yang memerlukan keterlibatan konsumen dan tidak bisa disimpan dalam persediaan. Pada Bab ini akan banyak membahas teknik perencanaan dan pengendalian operasi manufaktur dan jasa. Sementara dua bab sebelumnya membahas konsep pengendalian secara menyeluruh, termaksud sistem informasi manajemen. Bab ini akan berfokus pada pengelolaan dan pengendalian operasi produksi. Terakhir, kami akan menjelaskan isu-isu perancangan operasi khusus seperrti layout pabrik, perencanaan lokasi, manajemen persediaan, produktivitas manufaktur, dan struktur dari fungsi manajemen operasi.

III.   Kekhasan.
         Di dalam buku Manajemen Richard L. Daft tidak hanya menjelaskan secara tepat apa itu manajemen, tetapi ia juga menguraikan setiap langkah dan setiap tahab  yang harus diambil organisasi untuk menjadi yang terbaik di dalam berorganisasi. Termaksud semua strategi, taktik, contoh-contoh, keterampilan, dan berbagai wacana yang sangat menarik untuk di baca.

IV.  Rekomendasi.
         Buku ini baik sebagai referensi untuk organisasi yang baru dibentuk dan berdiri di lingkungan yang kompetitif.
NO. 2                                             Uraian
I.      Data Buku
a.       Judul buku     :  Manajemen
b.      Pengarang      :  James A.F.Stoner
c.       Penerbit          :  Erlangga
d.      Edisi               :  Ke-2
e.       Tahun terbit   :  1992 / 352 halaman
f.       Tujuan           :  Untuk memberikan informasi yang berguna dan relevan kepada
                        pembaca, dan untuk memberikan kepada pembaca pemahaman            
                        tentang bidang manajemen.                          . 
    
II.     Pokok Bahasan
Buku ini terbagi ke dalam 23 bab, yang di mulai dari bab 14, yang membahas dari apa, mengapa, dan bagaimana membentuk suatu organisasi.




Bab 14 membahas tentang manajemen perubahan dan pengembangan organisasi.
         Pada bagian bab ini akan lebih memusatkan perhatian pada program sistematis untuk melaksanakan perubahan terencana dalam organisasi itu atau sub-unitnya. Kekuatan-kekuatan yang memaksakan diadakannya perubahan setelah tiba waktunya untuk melaksanakan perubahan tersebut dan usaha mengatasi rintangan terhadap perubahan itu, akan dibahas pada gilirannya. Cara-cara pendekatan terhadap perubahan terencana dengan penekanan pada teknik yang dikenal sebagai pengembangan organisasi (organizational development-OD) akan melengkapi pembahasan ini.   

Bab 15 membahas tentang manajemen konflik dan kreatifitas organisasi.
        Pada bagian bab ini banyak menguraikan bagaimana konflik dalam organisasi dapat dikelola secara efektir dan bagaimana pembaharuan serta kreaktifitas dapat dikembangkan. Dengan membahas konflik dan kreaktifitas ini kita akan banyak melihat, bahwa kedua masalah ini kerapkali saling berhubungan. Terlalu banyak atau terlalu sedikit konflik dapat merintangi krreaktivitas, sedangkan konflik yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan akibat yang sama. Akan tetapi jika konflik dapat dikelola dengan baik, maka masalah-masalah yang timbul dapat dipecahkan secara efektif dan pemecahannya pun akan lebih baik.

Bab 16 membahas tentang motivasi, prestasi, dan kepuasan.
        Motivasi yaitu hal yang menyebabkan, menyalurkan, dan mendukung perilaku manusia yang selalu merupakan bahan yang penting dan membingungkan bagi para manajer. Motivasi penting karena manajer, menurut definisi, bekerja bersama dan melalui orang lain. Mereka memerlukan pemahaman tentang mengapa orang berbuat seperti yang mereka lakukan sehingga mereka dapat mempengaruhi orang untuk bertindak sesuai dengan keinginan organisasi. Motivasi bukanlah satu-satunya yang mempengaruhi tingkat prestasi seseorang. Ada dua factor yang terlibat yaitu kemampuan perseorangan dan pemahamannya tentang perilaku apa yang diperlukan untuk mencapai prestasi tinggi, factor ini disebut persepsi peran (role perception). Motivasi, kemampuan, dan persepsi peran saling berkaitan. Jadi jika salah satu factor rendah, tingkat prestasi cenderung akan rendah, meskipun faktor-faktor lainnya tinggi. Pada bab ini, banyak membahas tentang bagaimana manajer dapat memotivasi bawahan sehingga prestasi dan kepuasan mereka akan meningkat.

Bab 17 membahas tentang kepemimpinan.
        Ralph M. Stogdill, dalam surveinya mengenai teori dan riset kepemimpinan telah menunjukkan bahwa “ada banyak definisi yang berlainan tentang kepemimpinan hampir sebanyak orang berusaha mendefinisikan konsep tersebut”. Pada bagian Bab ini ada 3 implikasi kepemimpinan yang mencakup antara lain pertama, kepemimpinan harus melibatkan orang lain, bawahan atau pengikut. Kedua, kepemimpinan melibatkan distribusi yang tidak merata dari kekuasaan di antara pemimpin dan anggota kelompok. Dan yang ketiga, selain secara sah dapat mengarahkan bawahan atau pengikut mereka, pemimpin juga dapat mempunyai pengaruh. Pada bab ini juga banyak membahas tentang hakikat kepemimpinan, gaya kepemimpinan, dan sistem kepemimpinan.

Bab 18 membahas tentang komunikasi antar pribadi dan organisasi.
        Komunikasi yang efektif penting bagi manajer karena dua alasan. Pertama, komunikasi adalah proses dengan mana fungsi-fungsi manajemen, merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, dan mengendalikan dilaksanakan. Kedua, komunikasi adalah kegiatan dimana manajer mencurahkan sebagian besar dari waktunya. Dalam Bab ini banyak membahas komunikasi bagi organisasi. Pertama, banyak di sajikan model komunikasi antar pribadi, menguraikan hambatan terhadap komunikasi antar pribadi yang efektif, dan menyarankan cara-cara untuk mengatasi hambatan ini. Kedua, banyak diperlihatkan bagaimana berbagai macam saluran komunikasi dalam organisasi akan mempengaruhi variable-variabel seperti prestasi kelompok, kemunculan pemimpin, dan motivasi serta kepuasan anggota kelompok. Dan kemudian akan membahas masalah komunikasi naik dan turun melalui rantai komando organisasi, serta jalur komunikasi informal yang berkembang dalam organisasi. Dan pada akhirnya akan dibahas cara-cara mengatasi hambatan organisasi (dan bukan lagi hanbatan antar pribadi) terhadap komunikasi yang efektif.

Bab 19 membahas tentang penataan staf dan fungsi personalia.
        Penataan staf (staffing) adalah fungsi manajemen yang berhubungan dengan pengadaan atau rekrutmen (recruitment), penempatan, pelatihan, dan pengembangan para anggota organisasi. Dalam bab ini juga membahas bagaimana organisasi menentukan sumber-daya manusia seperti apa yang mereka butuhkan sekarang dan masa yang akan datang. Bagaimana manajer melakukan pengadaan dan seleksi manusia yang paling potensial untuk tiap-tiap posisi, bagaimana para manajer melatih orang sehingga mereka dapat bekerja secara efektif. Dan akhirnya apa saja macam-macam program pengembangan yang akan dapat menjamin denga sebaik-baiknya arus yang konstan dari bakat manajerial mulai dari tingkat bawah sampai tingkat atas dalam organisasi.

Bab 20 membahas tentang karir organisasi dan pengembangan individu.
        Pada bagian bab ini banyak membahas bagaimana seseorang mengatur karir orang lain atau mengatur sumber-daya organisasi. Perhatian sekarang ditumpahkan pada perkembangan masa depan pembaca sebagai seorang manajer. Bab ini juga banyak menguraikan pengaruh dan pengalaman pertama dalam perusahaan terhadap prestasi dan kepuasan individu di masa datang, dilemma-lema yang mungkin dihadapi seorang manajer mudah dalam karirnya, tahab-tahab yang akan dilalui dalam karir. Dan akhirnya bagaimana individu dapat berperan aktif dalam mengelolah karirnya sehingga mereka dapat menyadari tujuan pengembangan karirnya.

Bab 21 membahas tentang pengendalian.
        Pengendalian manajemen adalah usaha sistematis untuk menetapkan standar prestasi (performance standard) dengan perencanaan sasarannya guna mendisain sistem informasi umpan balik, membandingkan prestasi kerja tadi dengan standar yang telah ditetapkan terlebih dahulu, menentukan apakah ada penyimpangan (deviation) dan mencatat besar kecilnya penyimpangan ini dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk memastikan, bahwa semua sumber perusahaan dimamfaatkan secara seefektif dan seefisien mungkin guna mencapai tujuan perusahaan. Mockler menjelaskan bahwa ada 3 langkah di dalam proses pengendalian yaitu pertama, menetapkan standard an metode untuk mengukur prestasi. Langkah ini dapat mencakup penetapan standar ukuran untuk segala macam keperluan, mulai dari target penjualan dan produksi sampai kepada daftar absensi dan keamanan. Kedua, mengukur prestasi kerja. Langkah ini merupakan proses yang bersinambungan, repetitive (berulang-ulang) dalam mana frekuensinya tergantung kepada jenis aktivitas yang sedang diukur. Dan langkah terakhir adalah mengambil tindakan korektif, jika hasil-hasil yang dicapai tidak memenuhi standar dan analisis menunjukkan perlunya diambil tindakan. Tindakan korektif ini berupa mengadakan perubahan terhadap satu atau lebih banyak aktivitas dalam operasi organisasi, atau terhadap standar yang telah ditetapkan semula.

Bab 22 membahas tentang pengendalian keuangan.
        Dalam Bab ini banyak membahas macam-macam metode pengendalian yang dapat dipegunakan oleh para manajer, teristimewa laporan keuangan (financial statement), analisis ratio dan analisis keseimbangan (break-even analysis), demikian pula budget dan pemeriksaan pembukuan (audit).

Bab 23 membahas tentang melaksanakan pengendalian yang efektif.
        Melakukan pengendalian secara efektif juga merupakan hal yang sangat penting. Ketegasan dan konsistensi para manajer akan dapat membantu kita untuk memonitor kemajuan ke arah tujuan yang diinginkan, sehingga kegiatan organisasi dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana. Dalam bab ini banyak membahas tentang bagaimana sistem informasi organisasi dapat membantu manajer dengan informasi yang diperlukan untuk melakukan pengendalian secara efektif. Pada bagian Bab ini juga, banyak mempelajari secara terperinci bekerjanya sistem informasi manajemen (MIS), terutama MIS yang dikomputerisasi dan membahas masalah yang harus diatasi oleh manajer agar supaya dapat melaksanakan pengendalian secara efektif.


       
III.   Kekhasan
         Di dalam buku Manajemen James A.F.Stoner tidak hanya menjelaskan secara tepat apa itu manajemen, tetapi ia juga menguraikan setiap langkah dan setiap tahab  poin-poin yang harus diambil organisasi, dan yang harus di mengerti bagaimana menjadikan atau memajukan sebuah organisasi. Termaksud semua strategi, taktik, gambaran, design gambar atau peta konsep sehingga dapat mudah dimerti pembaca.

IV.  Rekomendasi
Buku ini baik sebagai referensi untuk organisasi yang baru dibentuk dan berdiri di lingkungan yang kompetitif, dan juga baik di gunakan oleh kalangan mahasiswa.


NO. 3                                             Uraian
I.          Data Buku
a.              Judul buku    :         Management of organizational Behavior
                                  Utilizing Human Resources, 4tb Edition
b.             Pengarang     :         Paul Hersey, Kenneth H. Blanchard
c.              Penerbit        :         Erlangga
d.             Edisi              :         Ke-4
e.              Tahun terbit  :         1995 / 392 halaman
f.              Tujuan          :         Edisi keempat ini memfokuskan konsep tentang kuasa
                                      (power) dan penerapannya bagi efektivitas kepemimpinan.
    
II.       Pokok Bahasan         :      
Buku ini terbagi ke dalam 13 bab, yang membahas dari apa, mengapa, dan bagaimana membentuk suatu perilaku organisasi (pendayagunaan sumber daya manusia).

Bab 1 membahas tentang Manajemen : suatu pendekatan perilaku.
       Kontribusi awal dalam ilmu perilaku, menurut Mayo, tampaknya hanya menyediakan pengetahuan tanpa mengakibatkan perubahan perilaku. Buku ini akan berfokus pada empat level perubahan dalam diri orang-orang yaitu Perubahan pengetahuan, perubahan sikap, perubahan perilaku, dan perubahan prestasi kelompok atau organisasi.

Bab 2 membahas tentang motivasi dan perilaku.
     Perilaku pada dasarnya berorientasi tujuan. Dengan kata lain, perilaku kita pada umumnya dimotivasi oleh keinginan untuk memperoleh tujuan tertentu. Sigmud Freud adalah orang pertama yang menyadari pentingnya motif bawah sadar. Frend percaya bahwa orang-orang tidak selamanya menyadari hal-hal yang diinginkannya, dan karenanya kebanyakan perilaku-perilaku dipengaruhi oleh motif atau kebutuhan bawah sadar.motif adalah ikhwal”mengapanya” perilaku. Motif timbul dan mempertahankan aktivitas serta menentukan arah umum perilaku seseorang.

Bab 3 membahas tentang memotivasi lingkungan.
     Pada bab ini banyak membahas masalah teori-teori motivasi lingkungan seperti teori X dan teory Y, teori X berasumsi bahwa orang-orang pada umumnya lebih suka diarahkan, enggan memikul tanggung jawab dan lebih menginginkan keselamatan di atas segalanya. Sedangkan teori Y ini berasumsi bahwa orang-orang menurut hakikatnya, tidak malas dan dapat dipercaya. teori tidak dewasa-dewasa, teori dalam praktek, teori motivasi iklim baik, dan lainnya.

Bab 4 membahas tentang perilaku pemimpin.
     Menurut George R. Terry, “kepemimpinan adalah aktivitas mempengaruhi orang-orang untuk berusaha mencapai tujuan kelompok secara suka rela. Robert Tannenbaum, Irving R. Weschler, dan Fred Messarik mendefenisikan kepemimpinan sebagai “pengaruh antarpribadi yang dilakukan dalam suatu situasi dan diarahkan, melalui proses komunikasi,  pada pencapaian tujuan atau tujuan-tujuan tertentu. Harold Koontz dan Cyril O’Donnel mengemukakan bahwa “kepemimpinan adalah upaya mempengaruhi orang-orang untuk ikut dalam pencapaian tujuan bersama”.

Bab 5 membahas tentang menentukan efektivitas.
     Dalam membicarakan efektivitas, sekali lagi penting membedakan antara manajemen dan kepemimpinan. Seperti yang telah dibicarakan dalam Bab 1, kepemimpianan adalah konsep lebih luas daripada manajemen. Manajemen dipandang sebagai jenis kepemimpinan khusus di mana pencapaian tujuan organisasi merupakan hal yang terpenting. Setiap saat anda berupaya mempengaruhi perilaku orang lain anda sedang melakukan proses kepemimpinan, oleh karena itu, jelas bahwa seluruh perilaku kepemimpinan anda tidak diarahkan pada pencapaian tujuan organisasi. Nyatanya, sering kali ketika anda berusaha mempengaruhi orang lain anda bahkan bukan bagian dari suatu organisasi. Sebagai contoh, apabila anda berusaha mendapatkan beberapa kawan untuk pergi ke suatu tempat dengan anda, anda tidak bertindak dalam arti manajemen, tetapi yang pasti anda sedang mengupayakan kepemimpinan.

Bab 6 membahas tentang mendiagnosis lingkungan.
     Lingkungan dalam suatu organisasi terdiri dari pemimpin, para pengikut pemimpin itu, atasan, rekan sejawat, orgnisasi, dan tuntutan pekerjaan. Daftar itu tidaklah inklusif, tetapi berisi beberapa komponen yang saling berinteraksi yang penting diketahui pemimpin. Seperti yang diilustrasikan dalam figure 6-1, lingkungan yang dihadapi manajer dapat memiliki beberapa variable situasional yang khusus serta memiliki lingkungan eksternal yang mempengaruhinya.

Bab 7 membahas tentang kepemimpinan situasional.
     Pentingnya, kemampuan diagnostic bagi seorang manajer tidak dapat diabaikan begitu saja. Edgar H. Schein mengungkapkan hal itu dengan tepat sekali pada saat menyatakan bahwa “manajer yang berhasil haruslah seorang pendiagnosis yang baik dan motif orang-orang yang dibawahinya sangat bervariasi, maka ia harus memiliki kemampuan diagnostic dan kepekaan untuk dapat menginderai dan menghargai perbedaan-perbedaan itu”.dengan kata lain, para manajer harus mampu mengidentifikasi isyarat-isyarat dalam suatu lingkungan.tetapi, dengan kemampuan diagnostic yang baik sekalipun, para pemimpin masih belum efektif kecuali mereka dapat mengadaptasi gaya kepemimpinan mereka untuk memenuhi tuntutan lingkungan mereka. “pemimpin harus memiliki keluwesan pribadi dan jajaran kemampuan yang diperlukan untuk memvariasikan perilakunya sendiri. Pabila kebutuhan dan motif bawahannya berbeda-beda, maka mereka harus diperlakukan secara berbeda-beda pula”.

Bab 8 membahas tentang kepemimpinan situasional, persepsi, dan dampak kuasa.
     Sekalipun penggunaan istilah “kuasa” banyak digunakan dalam literature manajem, tetapi ada semacam kerancuan dalam hal defenisinya. Sering kali para sarjana mencampuradukkan konsep kuasa dengan konsep-konsep lain, seperti pengaruh (influence) dan wewenang (authority). Russell mengartian kuasa sebagai “kemampuan menggunakan kekuatan”. Wrong membatasi arti kuasa sebagai keberhasilan mengendalikan orang lain. French mengartikan kuasa yang dimiliki A atas B sebagai “sama dengan kekuatan maksimum yang dapat dilakukan A atas B sebagai “sama dengan kekuatan maksimum yang dapat dilakukan A terhadap B dikurangi dengan kekuatan maksimum yang dapat dimobilisasi B dalam arah yang berlawanan. “Bagi Dahl,” A memiliki kuasa atas B sejauh bahwa A dapat menggerakkan B melakukan sesuatu yang apabila A tidak memiliki kuasa itu B tidak akan melakukannya.

Bab 9 membahas tentang sumber daya manusia.
     Likert menemukan bahwa supervisor yang berorientasi pegawai yang menerapkan supervise umum cenderung mengapalai bagian-bagian yang berproduksi lebih tinggi dibandingkan dengan para supervisor berorientasi tugas yang menyelia seca ketat. Kami menekankan kata-kata cenderung karena hal ini tampaknya merupakan hal yang umum di jumpai di kalangan masyarakat, sekalipun demikian, kita harus juga menyadari adanya pengecualian dari kecenderungan itu, yang bahkan terbukti dari data Likert sendiri. Apa yang terungkap dari studi Likert adalah bahwa bawahan umumnya sangat tanggap dengan harapan tinggi dari atasan yang benar-benar yakin atas diri mereka dan  karena mereka berusaha mewujudkan harapan itu.
Bab 10 membahas tentang Pendisiplinan yang konstruktif.
     Dalam bab ini akan dicoba membantu para manajer  untuk menentukan hal-hal yang perlu dilakukan apabila orang-orang mereka mulai menyimpang dari berperilaku kurang matang dibandingkan dengan hal-hal yang telah diperhatikan di masa lalu.

Bab 11 membahas tentang membangun hubungan yang efektif.
     Dalam dua bab terakhir ini penekanan dilakukan pada upaya membantu para pemimpin mengembangkan potensi orang-orangnya secara penuh. Upaya ini mencakup penyesuaian gaya kepemimpinan mereka ke depan dan ke belakang (mengikuti garis kurvilinier kepemimpinan situasional) dan dengan demikian memamfaatkan berbagai  kadar arahan dan dukungan pada saat tingkat kematangan dan perkembangan pengikut menarik atau menurun. Penyesuaian gaya kepemimpinan yang terus-menerus ini tampaknya menghendaki keluesan pemimpin untuk dapat menerapkan berbagai gaya kepemimpinan yang bergantung pada situasinya.

Bab 12 membahas tentang perencanaan dan penerapan perubahan.
     Dalam masyarakat dinamis yang mengitari organisasi dewasa ini, persoalan tentang apakah perubahan akan terjadi tidak lagi relevan. Sebaliknya, isyunya adalah bagaimana para manajer dan pemimpin mengatasi desakan perubahan yang tidak dapat diletakkan, yang mengkonfrontasi mereka sehari-hari, dalam upaya mempertahankan organisasi mereka agar tetap aktif dan mutakhir? Meskipun perubahan adalah kenyataan hidup, apabila manajer ingin efektif, mereka tidak lagi dapat membiarkan perubahan itu terjadi sebagaimana adanya. Mereka harus menyusun strategi untuk merencanakan, mengarahkan, dan mengendalikan perubahan.

Bab 13 membahas tentang mensintesiskan teori manajemen pendekatan holistic.
     Dalam bab ini banyak membahas tentang untaian-untaian sudut pandang untuk meningkatkan mamfaat masing-masing secara signifikan dalam upaya diagnosis dan prediksi. Dalam Bab terakhir ini, penulis berusaha memadukan keseluruhan teori itu, dengan menggunkan kepemimpinan situasional (yang dibicarakan dalam Bab 7) sebagai karangka sintesis untuk menggambarkan kesamaannya.
III.     Kekhasan
      Di dalam buku Manajemen Perilaku Organisasi Pemberdaya Sumber Daya Manusia Paul Hersey, dan Kenneth H. Blanchard tidak hanya menjelaskan secara tepat apa itu manajemen perilaku organisasi, tetapi ia juga menguraikan setiap langkah dan setiap tahab  poin-poin yang harus diambil organisasi, dan yang harus di mengerti bagaimana menjadikan atau memajukan sebuah organisasi dengan teori-teori perilaku itu. Termasuk semua strategi, taktik, gambaran, design gambar atau peta konsep sehingga dapat mudah dimerti pembaca.

IV.    Rekomendasi
      Buku ini baik sebagai referensi untuk organisasi yang baru dibentuk dan berdiri di lingkungan yang kompetitif, dan juga baik di gunakan oleh kalangan mahasiswa.


NO. 4                                             Uraian

I.          Data Buku
a.         Judul buku      :         Manajemen Sumber Daya Manusia Lanjutan.                                
b.         Pengarang        :         Fauziah Agustini
c.         Penerbit           :         Madenatera
d.         Edisi                :         Ke-1
e.         Tahun terbit     :         2011 / 149 halaman
f.          Tujuan             :         Lebih memfokuskan terhadap pengelolaan sumber daya
                                  manusia di dalam suatu organisasi, agar tercapainya  
                                  keberhasilan organisasi.

II.       Pokok Bahasan        :       
Buku ini terbagi ke dalam 10 bab, yang membahas dari apa, mengapa, dan bagaimana cara agar terciptanya pengelolaan sumber daya manusia di dalam organisasi yang berkompeten.

Bab 1 membahas tentang iklim kerja.
       Pengendalian iklim kerja merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas sumber daya manusia. Iklim kerja didefinisikan sebagai suasana psikologis yang dapat mempengaruhi perilaku anggota organisasi, terbentuknya sebagai hasil tindakan organisasi dan interaksi diantara anggota organisasi. Oleh karena perilaku merupakan fungsi dari karakteristik manusia dan persepsinya terhadap lingkungan, maka persepsi anggota organisasi terhadap iklim kerja yang terbentuk dilingkungan kerjanya akan mempengaruhi perilakunyadalam bekerja, dimana hal ini selanjutnya akan berpengaruh terhadap hasil kerjanya. Persepsi yang positif terhadap iklim kerja tentu saja akan memberikan hasil kerja yang positif, demikian juga sebaliknya. Oleh karena itu, dengan merubah persepsi anggota organisasi terhadap iklim kerja dapat menghasilkan peningkatan produktivitas kerja.

Bab 2 membahas tentang pemeliharaan karyawan.
       Pemeliharaan (maintenance) adalah usaha perusahaan untuk dapat meningkatkan kondisi fisik, mental, dan sikap karyawan, agar mereka tetap loyal dan bekerja produktif untuk menunjang tercapainya tujuan perusahaan. Supaya karyawan semangat bekerja, berdisiplin tinggi, dan bersikap loyal dalam menunjang tujuan perusahaan maka fungsi pemeliharaan mutlak mendapat perhatian manajer.tidak mungkin karyawan bersemangat bekerja dan konsentrasi penuh terhadap pekerjaannya jika kesejahteraan mereka tidak diperhatikan dengan baik. Pemeliharaan karyawan merupakan fungsi operasional berarati memelihara tenaga kerja agar betah bekerja di perusahaan tersebut.

Bab 3 membahas tentang motivasi kerja.
       Motivasi menyangkut perilaku manusia dan merupakan unsure yang vital dalam manajemen. Motivasi merupakan kegiatan yang mengakibatkan seseorang menyelesaikan pekerjaannya dengan semangat, rela, dan penuh tanggung jawab. Motivasi merupakan satu penggerak dari dalam hati seseorang untuk melakukan atau mencapai sesuatu tujuan. Motivasi juga bisa dikatakan sebagai rencana atau keinginan untuk menuju kesuksesan dan menghindari kegagalan hidup. Dengan kata lain motivasi adalah sebuah proses untuk tercapainya suatu tujuan.

Bab 4 membahas tentang kepuasan kerja.
       Kepuasan kerja merupakan hal yang bersifat individual. Setiap individual biasanya memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda. Kepuasan kerja merupakan keadaan emosional yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan dimana para karyawan memandang pekerjaannya. Hal ini dapat dilihat pada sikap karyawan terhadap pekerjaannya, mereka akan bersikap positif bila merasa sudah puas atau akan bersikap negative bila merasa tidak puas. Kepuasan kerja tersebut tentu saja dapat mempengaruhi perilaku kerja karyawan seperti malas, rajin, produktif, dan lain-lain.

Bab 5 membahas tentang semangat kerja
       Menurut Moekijat (1997) menyatakan bahwa semangat kerja menggambarkan perasaan berhubungan dengan jiwa, semangat kelompok kegembiraan, dan kegiatan. Apabila pekerja tampak merasa senang, optimis mengenai kegiatan dan tugas, serta ramah satu sama lain, maka karyawan itu dikatakan mempunyai semangat kerja yang tinggi. Sebaliknya, apabila karyawan tampak tidak puas , lekas marah, sering sakit, suka membantah, gelisah, pesemis, maka reaksi ini dikatakan sebagai bukti semangat yang rendah.

Bab 6 membahas tentang disiplin kerja.
       Menurut Soegeng Prijodarminto (1990) disiplin sebagai kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan atau ketertiban. Dalam hal ini, sikap dan perilaku yang demikian tercipta melalui proses binaan keluarga, pendidikan dan pengalaman atau pengenalan dari keteladanan dari lingkungannya. Disiplin akan membuat seseorang dapat membedakan hal-hal apa saja yang seharusnya dilakukan, yang wajib dilakukan, yang boleh dilakukan dan yang tidak seharusnya dilakukan (karena merupakan hal-hal yang dilarang).

Bab 7 membahas tentang prestasi kerja.
       Istilah prestasi kerja mengandung berbagai pengertian. Secara etimologi, kinerja berasal dari kata prestasi kerja (performance). Sebagaimana dikemukakan oleh A.P Mangkunegara (2005) bahwa istilah kinerja berasal dari kata job performance atau actual performance (prestasi kerja atau prestasi sesunguhnya yang dicapai seseorang) yaitu hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yyang dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Bab 8 membahas tentang produktivitas kerja.
       Secara umum, menurut ILO produktivitas diartikan sebagai hubungan antara hasil nyata maupun fisik dengan masukan yang sebenarnya. Menurut Payman J. Simanjuntak (1987) produktivitas adalah kesadaran untuk menghasilkan sesuatu yang lebih banyak daripada yang telah atas sedang berada dalam usahannya. Berdasarkan pendapat dari para ahli maka dapat disimpulkan bahwa produktivitas merupakan seluruh hasil kerja yang dinilai yang dilakukan oleh seorang karyawan terhadap pekerjaannya.

Bab 9 membahas tentang komitmen organisasi.
       Komitmen adalah kemampuan dan kemauan untuk menyelaraskan perilaku pribadi dengan kebutuhan, prioritas dan tujuan organisasi. Hal ini mencakup cara-cara mengembangkan tujuan atau memenuhi kebutuhan organisasi yang intinya mendahulukan misi organisasi daripada kepentingan pribadi. Menurut N.J.Allen & J.P Meyer (1997), komitmen dapat juga berarti penerimaan yang kuat individu terhadap tujuan dan nilai-nilai organisasi, dan individu berupaya serta bekarya dan memiliki hasrat yang kuat untuk tetap bertahan di organisasi tersebut.

Bab 10 membahas tentang loyalitas kerja.
              W.J.S Poerwadarminta (1996) menyatakan loyal adalah patuh, setia. Apabila karyawan bekerja pada suatu perusahaan, dan perusahaan tersebut telah memberikan fasilitas-fasilitas yang memadai dan diterima oleh karyawannya, maka kesetiaan karyawan terhadap perusahaan akan semakin besar, maka timbul dorongan yang menyebabkan karyawan melakukan pekerjaan menjadi lebih giat laigi. Richard M. Steers, L.W. P6rter dan R.T Mowday (1982) berpendapat bahwa : 1)  loyalitas kepada perusahaan sebagasi sikap yaitu sejauh mana seseorang karyawan mengidentifikasikan tempat kerjanya yang ditunjukkan dengan keinginan untuk bekerja dan berusaha sebaik-baiknya. 2) loyalitas terhadap perusahaan sebagai perilaku, yaitu proses dimana seseorang karyawan mengambil keputusan pasti untuk tidak keluar dari perusahaan apabila tidak membuat kesaahan yang ekstrim. Berdasaran pendapat di atas disimpulkan bahwa loyalitas kerja merupakan tekad dan kesanggupan untuk mentaati, melaksanakan dan mengamalkan sesuatu yang ditaati dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Loyalitas juga merupakan suatu aktivitas yang menyangkut fisik, psikis, dan social yang membuat individu mempunyai sikap untuk mentaati peraturan yang ditentukan, melakukan dan mengamalkan sesuatu yang ditaatinya dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab..
III.     Kekhasan
      Di dalam buku Manajemen Sumber Daya Manusia Lanjutan Fauziah Agustini tidak hanya menjelaskan secara tepat apa itu manajemen sumber daya manusia lanjutan, tetapi ia juga menguraikan setiap langkah dan setiap tahab  poin-poin yang harus diambil organisasi, dan yang harus di mengerti bagaimana menjadikan atau memajukan sebuah organisasi dengan teori-teori tersebut. Termasuk semua strategi, pengertian, taktik, gambaran, design gambar atau peta konsep sehingga dapat mudah dimerti pembaca.

IV.    Rekomendasi
      Buku ini baik sebagai referensi untuk organisasi yang baru dibentuk dan berdiri di lingkungan yang kompetitif, dan juga baik di gunakan oleh kalangan mahasiswa dan golongan lainnya.
NO. 5                                             Uraian
I.         Data Buku
a.       Judul buku    :  Manajemen Transportasi
b.      Pengarang     :  Drs. H. A. Abbas Salim
c.       Penerbit        :  PT RajaGrafindo Persada
d.      Edisi             :  Ke-1
e.       Tahun terbit :  2000 / 263 halaman
f.       Tujuan          :  Untuk meningkatkan pengetahuan tentang ilmu transportasi.
. 
    
II.     Pokok Bahasan
Buku ini terbagi ke dalam 10 bab, yang membahas dari apa, mengapa, dan bagaimana membentuk manajemen transportasi yang baik.

Bab 1 membahas tentang pendahuluan.
      Tujuan yang hendak dicapai dengan pengembangan ekonomi adalah :
-          Meningkatkan pendapatan nasional, disertai dengan distribusi yang merata antara penduduk, bidang-bidang usaha dan daerah-daerah.
-          Meningkatkan jenis dan jumlah barang jadi dan jasa yang dapat dihasilkan para konsumen, industry dan pemerintah.
-          Mengembangkan industry nasional yang dapat menghasilkan devisa serta mensupply pasaran dalam negeri.
-          Menciptakan dan memelihara tingkatan kesempatan kerja bagi masyarakat.

Dalam menentukan biaya transportasi, beberapa factor yang perlu diperhatikan :
-          Perbandingan antara bobot dan volume barang.
-          Kemungkinan kerusakan barang.
-          Kemungkinana merusak barang lain.
-          Harga pasar dari barang tersebut.
-          Jarak angkutan.
-          Keteraturan dan volume angkutan.
-          Tingkatan persaingan dengan sarana angkutan lain, baik intermodal maupun intramoda.
-          Biaya yang berhubungan dengan jasa-jasa yang dihasilkan
-          Factor-faktor khusus yang mungkin mempengaruhi angkatan.

Bab 2 membahas tentang ruang lingkup peranan transportasi.
      Transportasi sebagai dasar untuk membangun ekonomi dan perkembangan masyarakat serta pertumbuhan industrialisasi. Dengan adanya transportasi, menyebabkan adanya spesialisasi atau pembagian pekerjaan menurut keahlian menurut keahlian sesuai dengan budaya, adat istiadat dan budaya suatu bangsa atau daerah. Pada dasarnya peranan transportasi adalah transportasi dan kehidupan masyarakat, spesialisasi secara geografis, produksi yang ekonomis. Dan pembangunan nasional dan hankamnas.

Bab 3 membahas tentang permintaan dan penawaran jasa transportasi.
      Untuk mengetahui beberapa jumlah perrmintaan akan jasa angkutan sebenarnya (actual demand) perlu dianalisis permintaan akan jasa-jasa transportasi sebagai berikut :
-          Pertumbuhan penduduk.
-          Pembangunan wilayah dan daerah.
-          Perdagangan ekspor dan impor.
-          Industrialisasi.
-          Transmigrasi dan penyebaran penduduk.
-          Analisis dan proyeksi akan permintaan jasa transportasi.
Dari segi penawaran (supply) jasa-jasa angkutan dapat kita bedakan dari segi :
-          Peralatan yang digunakan.
-          Kapasitas yang tersedia.
-          Kondisi teknis alat angkut yang dipakai.
-          Produksi jasa yang dapat diserahkan oleh perusahaan angkutan.
-          Sistem pembiayaan dalam pengoperasian alat pengangkutan.

Bab 4 membahas tentang transportasi dan distribusi fisik.
      Transaksi perdagangan adalah proses pemindahan barang dari penjual kepada pembeli dengan pembayaran yang dilakukan pembeli kepada penjual. Pengertian distribusi termasuk terminology dalam ilmu ekonomi dan dalam kalangan perindustrian. Dalam bab ini di bahas pengertian transportasi yang secara umum adalah rangkaian kegiatan memindahkan/mengangkut barang dari produsen sampai kepada konsumen dengan menggunakan salah satu moda transportasi, yang dapat meliputi moda transportasi darat, laut/sungai maupun udara.

Bab 5 membahas tentang biaya, tarif angkutan dan pembentukan harga.
      Biaya adalah factor yang menentukan dalam transportasi untuk penetapan tarif, alat control agar dalam pengoperasian mencapai tingkat efektivitas dan efisien. Konsep biaya ada 7 yaitu biaya, biaya modal dan biaya operasional, biaya tetap dan biaya variable, biaya kendaraan, biaya gabungan, biaya langsung dan tidak langsung, dan biaya unit serta biaya rata-rata. Sedangkan tarif dikategorikan 3 jenis yaitu tarif menurut kelas, tarif pengecualian, dan tirif perjanjian atau kontrak. Jenis tarif angkutan ada 4 yaitu tariff menurut trayek, local, diferensial, dan peti kemas.

Bab 6 membahas tentang organisasi, manajemen, dan pengoperasian transportasi.
      Pengoperasian untuk masing-masing moda transportasi berbeda disebabkan sifat, karakteristik, dan jenis alat angkut yang digunakan tidak sama. Angkutan darat terdiri dari angkutan jalan raya, angkutan kereta api, dan angkutan sungai, danau dan penyeberangan (ASDP).

Bab 7 membahas tentang pengusahaan angkutan dan pelabuhan (terminal).
      Sebagian besar produksi jasa transportasi yang menyangkut hajat hidup masyarakat (kereta api, pelabuhan udara/laut dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pelabuahan adalah tempat berlabuh/ bertambahnya kapal laut serta kendaraan air lainnya, menaikkan dan menurunkan menurunkan penumpang, bongkar muat barang dan hewan serta merupakan daerah lingkungan kerja kegiatan ekonomi. Fungsi pelabuhan yaitu sebagai tempat yang aman berlabuh kapal dan sebagai terminal transfer barang dan penumpang.

Bab 8 membahas tentang pemamfaatan teknologi modern pada angkutan laut (shipping).
      Tujuan utama perancangan kapal-kapal modern adalah terutama untuk menekan biaya persediaan jasa angkutan yang lazimnya dinyatakan untuk tiap ton muatan yang diangkat. Operasi kapal memiliki 3 fase yaitu waktu kapal berada di pelabuhan untuk melakukan bongkar/muat, waktu manuvre untuk bersandar pada atau melepas dari dermaga dan di pelabuhan, dan waktu berlayar antar pelabuahan. Ketiga fungsi adalah  dan mutlak untuk melakukan tugasnya sebagai alat pengangkut barang, dan yang penting bahwa dalam harga jasa angkutan tercermin biaya-biaya dari ketiga fase tersebut. Tujuan dari pengusaha pelayaran adalah untuk menentukan alokasi yang paling ekonomis dari waktu kapal (ship time) antara ketiga fase ini.

Bab 9 membahas tentang resiko dalam pengangkutan.
      Dalam transportasi masalah resiko (risk) sering terjadi baik yang menyangkut jiwa manusia maupun barang-barang muatan serta alat angkutnya (means of transport). Resiko adalah ketidaktentuan (uncertainty) yang bisa menyebabkan kerugian. Sifat kerugian disini ada 3 yaitu kerugian terhadap penumpang yaitu kerugian yang menyangkut jiwa penumpang dan awak pesawat/awak kapal/crew dan awak bis., kerugian terhadap alat angkut, muatan, dan freight yaitu selama dalam perjalanan bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kerugian yang terjadi dapat diperkecil dengan cara mempertanggungkan, muatan dan freight kepada perusahaan asuransi/ asuransi kerugian, serta kerugian total dan kerugian sebagian (total loss & partial loss) yaitu kerugian yang berhubungan dengan jiwa seseorang sehingga meninggal dunia disebut total loss.

Bab 10 membahas tentang QCD dalam SISTRANNAS.
      Pengembangan transportasi, yang berperan sebagai urat nadi kehidupan ekonomi, social budaya, politik, dan pertahanan keamanan, diarahkan pada terwujudnya SISTRANNAS yang andal dan berkemampuan tinggi serta diselenggarakan secara terpadu, tertib, lancar, aman, nyaman, dan efisien dalam menunjang dan sekaligus menggerakkan dinamika pembangunan, mendukung mobilitas manusia, barang dan jasa, mendukung pola distribusi nasional, serta mendukung pengembangan wilayah dana peningkatan hubungan internasional yang lebih memantapkan perkembangan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dalam rangka perwujudan wawasan nusantara. Dalam menggembangkan SISTRANNAS, sampai saat ini Indonesia menghadapi beberapa masalah utama transportasi, sebagai berikut :
-          Kurangnya keterpaduan sistem transportasi kota.
-          Tingginya biaya perawatan dan perbaikan sarana transportasi.
-          Menuanya usia armada pesawat udara dan kapal laut.
-          Rendahnya kinerja keuangan dari sistem transportasi.
-          Kurangnya keterpaduan antar moda.
-          Kurangnya pemamfaatan teknologi yang tepat dan murah.
-          Pertumbuhan kota.
-          Lingkungan hidup.
-          Keterbatasan kemampuan dana pemerintah.
-          Kemampuan latihan keterampilan dan perkembangan sumber daya manusia.
-          Keterbatasan sumber energy dalam negeri.